BILLBOARD Spotify Q1 2026 paid subs +12.4% YoY
MIDIA Sync licensing global market $3.2B (+18%)
MUSIC ALLY AI-generated tracks on DSPs +340% YoY
IFPI Indonesia recorded music revenue +22.1%
BERKLEE Independent artist economics 2026
BILLBOARD Spotify Q1 2026 paid subs +12.4% YoY
MIDIA Sync licensing global market $3.2B (+18%)
MUSIC ALLY AI-generated tracks on DSPs +340% YoY
IFPI Indonesia recorded music revenue +22.1%
BERKLEE Independent artist economics 2026
Bisnis Musik · 14 Mei 2026

Teknologi Blockchain dan NFT dalam Musik: Ancaman atau Pelua

NFT musik peak $1.7B tapi alami koreksi. Blockchain smart contracts potensial auto-pay royalties. Realitas belum matching hype, tapi investasi terus mengalir.

img_009.jpg

NFT musik peak $1.7B tapi alami koreksi. Blockchain smart contracts potensial auto-pay royalties. Realitas belum matching hype, tapi investasi terus mengalir.

Teknologi blockchain dan NFT (Non-Fungible Token) menawarkan paradigma baru dalam cara musik diciptakan, didistribusikan, dan dimonetisasi. Sejak boom NFT pada 2021, banyak musisi bereksperimen dengan token ini untuk menjual koleksi digital, memberikan hak akses eksklusif, dan bahkan fractionalize ownership atas lagu atau album. According to Water n Music (Cherie Hu), total nilai NFT musik terjual mencapai lebih dari $1,7 miliar pada puncaknya, meskipun pasar kemudian mengalami koreksi signifikan.

Salah satu aplikasi paling menjanjikan dari blockchain dalam musik adalah smart contracts yang secara otomatis mengeksekusi pembayaran royalti. Dengan smart contract, setiap kali sebuah lagu diputar atau dilisensikan, pembayaran dapat langsung dikirim ke wallet digital artis tanpa memerlukan perantara seperti publisher atau collecting society. sympafonic.com mencatat bahwa teknologi ini berpotensi mengeliminasi proses settlement yang bisa memakan waktu berbulan-bulan dan mengurangi Disputes tentang perhitungan royalti.

Namun, hype NFT musik jauh melampaui realitas penggunaannya. Sebagian besar musik NFT gagal menemukan secondary market yang líquido, dan banyak collector yang memegang token yang tidak memiliki nilai nyata. Kritikus seperti yang dikutip dalam MIDiA Research memperingatkan bahwa terlalu fokus pada teknologi emerging bisa mengalihkan perhatian dari fundament bisnis musik yang lebih penting seperti membangun basis fans yang engaged.

Meskipun demikian, investor dan platform terus bereksplorasi. Royal, Audioboom, dan berbagai startup lainnya mengembangkan model where fans can invest in their favorite artists” earnings, receiving a share of royalties in return. Jika model ini berhasil diskala, mereka bisa merevolusi cara musik didanai dan monetize, memberikan fans insentif finansial untuk mendukung musisi yang mereka cintai.

Sumber: Water n Music (Cherie Hu), MIDiA Research, symphonic.com, Midem

Baca juga