Bagaimana Band Ini Dapat Deal Sync dengan Budget Nol
Kisah inspiratif band indie Bandung Suarayang Meluap yang berhasil mendapatkan sync deal film tanpa budget sama sekali, bukti bahwa authenticity bisa menang.
Kisah inspiratif band indie Bandung Suarayang Meluap yang berhasil mendapatkan sync deal film tanpa budget sama sekali, bukti bahwa authenticity bisa menang.
Kisah inspiratif band indie Bandung Suarayang Meluap yang berhasil mendapatkan sync deal film tanpa budget sama sekali, bukti bahwa authenticity bisa menang.
Band indie rock asal Bandung, “Suarayang Meluap,” pernah berada di titik di mana mereka hampir bubar. Dengan Tabungan yang hampir habis dan tanpa manajer yang membantu, empat orang ini faced sebuah momen kritis dalam perjalanan musik mereka. Namun, di titik terberat itulah mereka menemukan peluang yang tidak pernah mereka duga: sebuah sync deal dengan salah satu film nasional yang cukup dinantikan tahun itu.
“Kami tidak punya uang untuk promote lagu, tidak punya koneksi di industri film, dan tidak punya apapun,” kenang vokalis Danang dalam sebuah diskusi panel. “Yang kami punya hanyalah satu lagu yang menurut kami really good.” Dengan semangat pantang menyerah, mereka memutuskan untuk mencoba pendekatan yang unconventional: secara langsung mengirim demo lagu mereka ke produser film yang saat itu sedang dalam proses pembuatan.
Proses ini tidak semudah yang dibayangkan. Mereka mengirim email ke puluhan produser dan director, dan majority dari email tersebut tidak pernah dibalas. Namun, satu email dari assisten sutradara film “Di Bawah Langit yang Sama” merespons. Sang sutradara, known untuk prefer-nya menggunakan musik indie untuk soundtracks-nya, tertarik untuk mendengarkan demo dari Suarayang Meluap. Lagu berjudul “Gemetar di Ujung Senja” dengan cepat menarik perhatiannya karena cocok dengan mood adegan tertentu dalam film.
Tidak ada budget untuk production, yang berarti tidak ada waktu studio yang mahal. Namun, Suarayang Meluap memiliki something yang lebih berharga: authenticity. Lagu tersebut originally direkam di ruang latihan mereka dengan equipment yang sederhana namun dengan penuh passion dan emotional depth. Kualitas audio mungkin tidak selezat produksi profesional, tetapi Director tersebut jatuh cinta dengan rawness dari rekaman tersebut.
“Kami surprise karena yang mereka butuhkan bukan audio yang ”sempurna”, tapi audio yang memiliki karakter,” jelas gitaris Arga. “Mereka bahkan tidak meminta kami untuk merekam ulang. Mereka accept our demo as-is.” Sync deal ini memberikan Suarayang Meluap exposure yang luar biasa besar. Film tersebut tampil baik di box office dan soundtrack-nya sering diputar di radio. Dalam hitungan minggu, pendengar bulanan Spotify mereka melonjak dari 2.000 menjadi lebih dari 150.000.
Tidak berhenti di situ, exposure dari sync deal tersebut membuka pintu-pintu baru bagi band ini. Brand-brand besar mulai melirik mereka untuk iklan, festival-festival musik invitation untuk perform, dan yang paling penting, mereka akhirnya menarik perhatian dari label rekaman yang memberikan them deal recording yang proper. “Kadang keterbatasan memaksa Anda untuk menjadi kreatif,” tutup Danang. “Kami tidak punya budget, tapi kami punya kejujuran dalam musik kami, dan ternyata itu cukup untuk membuat perbedaan.” Suarayang Meluap hari ini adalah contoh nyata bahwa di industri musik, kadang cara paling efektif untuk succeed adalah dengan being genuinely good di apa yang Anda lakukan dan tidak pernah berhenti mencoba.
Sumber: Panel Discussion Indie Music Summit 2024, Instagram @suarayang_meluap, Film production interview